Inilah Enam Spesies Monyet Asal Indonesia Yang Terancam Punah

Berinformasi.com, Jakarta – Enam puluh persen spesies monyet terancam punah. Setengahnya berada dalam angka kritis karena penurunan populasi yang tajam.

Meningkatnya jumlah populasi manusia di bumi menjadi salah satu penyebab terancam punahnya spesies ini. Para spesies monyet kehilangan habitat karena illegal logging, pertambangan dan pertanian. Yang lebih parah lagi terjadi perburuan, jual beli binatang, dan perubahan iklim menjadi alasan utama penurunan spesies secara cepat.

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan hutan tropisnya yang kaya akan biodiversitas. Selain itu Indonesia merupakan rumah bagi 12% mamalia yang ada di dunia. Namun jika dilihat selama 20 tahun ke belakang, Indonesia selalu memiliki permasalahan terkait hutan.

Permasalahan hutan menyebabkan banyak spesies binatang yang terancam punah. Spesies monyet pun tidak luput dari ancaman ini. Berikut enam spesies monyet asal indonesia yang terancam punah :

Miller’s Grizzled Langur (Lutung Banggat)

Lutung banggat merupakan monyet yang berasal dari Kalimantan. Keberadaan lutung banggat sulit ditemukan karena jumlahnya yang sangat sedikit. Lutung banggat sempat dinyatakan punah, tetapi  pada tahun 2011 ditemukan kembali spesiesnya.

Penyebab terancam punahnya monyet ini karena kehilangan habitat dan perburuan liar. Lutung banggta sempat diburu besar-besaran pada tahun 1990-an, karena menganggap batu empedunya berkhasiat untuk kesehatan.

Monyet Yaki (Monyet Hitam Sulawesi)

Monyet Yaki merupakan satwa endemik yang berasal dari Sulawesi Utara. Monyet ini memiliki ciri khas mempunyai jambul dikepalanya dan berwarna hitam pekat. Ukuran tubuh monyet yaki cukup besar dari monyet lainnya. Penebangan hutan dan perburuan liar menjadi penyebab terancamnya populasi monyet yaki.

Simakobu (Monyet Ekor Babi)

Simakobu merupakan primata endemik di Pulau Mentawai. Monyet ini hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari 1 pejantan, 1 atau lebih betina, dan beberapa anakan.

Simakobu jantan dapat mengeluarkan suara keras yang akan terdengar sampai jarak 500 meter. Monyet ini memiliki ekor seperti babi dengan panjang kurang lebih 15 cm. Faktor yang menyebabkan primata ini terancam punah adalah kehilangan habitat, alih fungsi lahan, perburuan liar, serta perdagangan primata untuk peliharaan dan koleksi.

Monyet Tarsius Kerdil

Tarsius kerdil merupakan monyet mungil yang berasal dari Sulawesi Tengah. Panjang tubuh monyet ini hanya sekitar 15 cm dengan berat hanya sekitar 80 gram. Tarsius memilki ukuran mata yang sangat besar. Ukuran matanya lebih besar ketimbang ukuran otaknya.

Selain itu kepala tarsius juga dapat berputar 180 derajat seperti burung hantu. Tarsius dapat melompat sejauh 3 meter dari satu pohon ke pohon lainnya. Tahun 1928 tarsius dinyatakan punah, namun pada tahun 2008 monyet ini kembali ditemukan.

Monyet Daun Natuna (Kekah Natuna)

Kekah Natuna merupakan satwa langka yang berasal darai Pulau Natuna. Kekah Natuna tersebar di beberapa habitat dan ketinggian. Namun sayangnya belum ada daerah konservasi di kepulauan ini. Sehingga keterancaman punahnya populasi ini semakin tinggi. Karena morfologinya yang lucu, banyak yang melakukan perburuan untuk dipelihara dan dikoleksi.

Hal ini karena tingginya permintaan pasar dan harga jual spesies ini. Namun keteledoran sang pemelihara dalam memberikan makan menyebabkan kekah Natuna ini mati pada prosesnya. Selain itu kekah natuna merupakan spesies yang gampang stres dan tertekan.

Javan Gibbon (Owa Jawa)

Owa Jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa. Monyet ini tidak memiliki ekor, berkepala kecil, beralis putih, wajah bewarna hitam, berambut tebal warna abu-abu seluruh tubuh dan memiliki bantalan duduk. Distribusi Owa Jawa sendiri kini terpusat di taman nasional dan hutan lindung.(pdn)

Pernah dengar istilah Dataran Sunda? Tarnyata cakupannya sampai ke Pulau Sumatera dan disana hidup beragam jenis hewan yang dilindungi dan kerap disebut hewan Asiatis. Berikut ulasannya.

INFOKAN PADA SAHABAT: