Tiga Makanan Khas Banten Yang Wajib Dicoba Jika Berkunjung Kesana

Berinformasi.com, Banten – Banten merupakan wilayah yang dahulunya bagian dari Jawa Barat sekarang mengalami perkembangan dalam berbagai bidang, termasuk juga pariwisata dan kuliner.

Banyak destinasi wisata memesona yang populer dan dikunjungi. Sebut saja Pantai Tanjung Lesung, Kampung Baduy, dan lain-lain. Tak hanya destinasi wisata alam saja, Banten juga menyuguhkan kuliner sedap dan mantap. Berikut tiga makanan khas yang ada di Banten.

Angeun Lada

Angeun lada merupakan salah satu hidangan khas masyarakat Banten. Angeun lada sendri sudah ada dari zaman dahulu masyarakat suku Sunda. Angeun berarti sayur dan lada berarti pedas.

Bahan utama pembuatan kuliner khas Banten ini adalah babat sapi dan campuran sayur. Tidak ketinggalan bahan baku utamanya juga daun khas yang bernama daun walang yang aromanya sangat menyengat. Untuk bumbu-bumbunya seperti halnya bawang merah, kemiri, bawang putih, kencur, dan tak ketinggalan kencur.

Makanan ini menjadi hidangan wajib pada perayaan-perayaan besar. Contohnya saja saat hari raya Idul Fitri. Selain itu juga dijadikan sebagai suguhan saat ada acara keluarga. Ini menjadi salah satu kuliner khas yang memiliki peran cukup penting.

Angeun lada ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Sejak 2016 oleh Kementerain Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Sebagai informasi, warisan budaya tak benda ini termasuk tradisi, seni pertunjukan, ekspresi lisan (misalnya bahasa pengetahuan, ketrampilan, alat-alat, praktek, benda alamiah, dan artefak). Serta tidak ketinggalan ruang budaya yang diakui oleh berbagai komunitas. Penetapan ini ditandatangani pada 14 September 2016.

Sate Bebek

Sate biasanya berasal dari daging ayam, sapi, atau kambing. Akan tetapi di Banten yang disajikan justru sate bebek. Rasanya nikmat, gurih, juga pedas sehingga sajian ini selalu diburu wisatawan yang tengah berkunjung ke Banten

Meskipun daging ebbek dikenal alot, tapi saat diolah menjadi sate justru malah empuk. Karena daging bebeknya memang diiris berukuran sedang. Lalu dibumbui hingga meresap.

Bumbu yang digunakan adalah bawang merah, bawang putih, gula merah, cabai, ketumbar, kunyit, kemiri, lengkuas, garam, serta merica. Inilah bumbu rahasia yang membuat wisatawan selalu terkesan akan rasanya. Agar daging bebek terasa empuk dan bau amisnya hilang, potongan daging bebek harus direndam dalam bumbu selama kurang lebih satu hari baru bisa dibakar.

Setelah bumbu dirasa cukup meresap, daging baru ditusuk dengan tusukan sate dan dibakar di atas bara api hingga matang. Kalau sudah matang, sate ini disajikan dengan irisan timun dan tomat, tanpa kuah kecap atau kuah kacang lagi karena dagingnya sudah kaya rasa.

Namun biasanya banyak rumah makan sate bebek yang tetap menyediakan kuah kecap, kuah kacang, serta sambal sebagai teman bersantap agar sate terasa lebih nendang. Warung-warung makan penyedia menu ini juga biasanya menyiapkan menu bebek lainnya, yakni sup sebagai pendamping sate. Rasanya yang gurih serta pedas sangat pas dipadukan dengan gurihnya sate. Ditemani sepiring nasi panas, rasanya makin lengkap.

Sate bebek biasanya dipatok seharga Rp15.000, sedangkan sup bebek yang biasa dikenai harga Rp7.000-Rp10.000. harga yang terjangkau untuk sajian istimewa.

Leumeung

Di daerah Banten Selatan terdapat satu kuliner khas yang terkenal bernama leumeung. Leumeung atau lemang bisa ditemukan di daerah Malingping, Lebak Selatan. Makanan tradisional khas Banten yang satu ini terbuat dari campuran beras ketan berbumbu santan kelapa kental.

Adonan beras ketan dan santan, kemudian dimasukkan ke dalam bilah-bilah bambu untuk dibakar pada perapian hingga matang. Saat lemang matang, lemang bisa langsung dimakan dalam keadaan hangat. Untuk memakan lemang, biasanya warga Banten Selatan khususnya, menambahkan telur asin sebagai menu pendampingnya.

Sebagai kuliner khas Malingping, harga leumeung cukup murah. Sehingga banyak wisatawan yang membawa pulang setelah melakukan perjalanan panjang ke Banten Selatan.

Untuk mendapatkan Leumeung kita harus menyempatkan diri berkunjung ke Pasar Tradisional Malimping yang terletak di jalan raya Malimping – Bayah. Tak sulit mendapatkan para penjaja leumeung, karena lokasi mereka berjualan berada di pinggir jalan.

Membuat leumeung relatif sederhana. Beras ketan berbumbu aneka macam rempah yang telah diaduk dituang bersama santan kelapa kental ke dalam bambu berlapis daun pisang muda. Kemudian leumeung dibakar di perapian. Cara membakarnya juga harus hati-hati jangan sampai bambu terbakar habis karena leumeung akan menghitam alias gosong.

Setelah proses itu selesai, bambu berisi beras ketan bakar sudah dapat dibawa ke pasar. Harga leumeung per potong seribu rupiah. Tapi, jika membeli per bambu harganya berkisar Rp 7.000,- hingga 15.000,- tergantung ukuran dari leumeung.(pdn)

Di Qbig ada tempat makan yang menyajikan makanan khas negara lain. mau tahu apa saja? Berikut informasinya.

INFOKAN PADA SAHABAT: